Membaca dan Menulis; Harus Dipaksa
Membaca dan menulis memang harus dipaksakan agar mau, agar meluangkan sedikit waktunya. Terkadang tekad tersebut hanya angan semata jika dikalahkan dengan urusan lain sehingga muncul alasan "sibuk" dan "tidak ada waktu luang". Mendisiplinkan diri untuk hal-hal positif, membaca dan menulis misalnya, diperlukan ketegasan dalam memimpin diri sendiri. Jika memang dirasa amat sulit sepertinya perlu konsekuensi eksternal untuk memacu semangat itu.
Desember kemarin kami (aku dan kawanku) sepakat membuat sebuah Whatsap Grup (WAG) yang kami sebut One Month One Book (OMOB) di mana kami akan membaca sebulan sebuku sebagai resolusi tahun ini. Judul yang disetorkan beragam dan bagus-bagus seperti Biografi Gus Dur karya Greg Barton, Botchan karya Natsume Soseki, Kekekalan-nya Milan Kundera, ada yang membaca karya Pram, ada juga yang membaca bukunya Goenawan Mohammad dengan judul Eco dan Iman , dan kami harus mengkhatamkan buku-buku tersebut di bulan Januari ini.
Melihat geliat teman-teman rasanya menjadi angin segar untuk memotivasi diri sendiri dalam membaca, selain itu kami dituntut untuk meresensinya di akhir bulan dan berbagi pengalaman membaca dengan pembaca lain. Jadi, konsekuensinya bagi yang melanggar ia tidak bisa menyelesaikan tulisannya dan tidak mempunyai bahan berbagi cerita. Selain itu, sanksi psikologis yang harus dibayar tentunya ada rasa malu terhadap pembaca lain jika betul-betul tidak dibaca.
Sebagaimana membaca, tulisan ini pun juga lahir karena dipaksa. Lagi-lagi dalam sebuah WAG yang aku ikuti, aku diwajibkan menyetorkan sebuah tulisan paling tidak sebulan sekali. Jadi tiap hari ada saja tulisan yang dibagikan oleh anggota grup tersebut. Tulisan yang diangkat juga beragam ada yang menulis tentang suatu peristiwa, refleksi, resensi, sampai pengalaman pribadi.
Dalam grup menulis ini pengurus akan memberikan tanda pena atau centang bagi anggota yang sudah mengirim tulisan dan tanda bulatan merah bagi anggota yang absen, jadi masing-masing anggota akan tahu nama-nama yang sudah atau belum menulis. Lagi-lagi siapa yang tidak mencelos hatinya ketika absen itu merah menyala?
Komentar
Posting Komentar