KEPALA KELUARGA PEREMPUAN DI TENGAH PANDEMI*
Oleh: Lutfiana Zulfa
Pada umumnya pemimpin di tingkat keluarga
direpresentasikan oleh laki-laki atau yang sering kita lihat yaitu ayah. Sedangkan ibu
menduduki wilayah domestik meski juga ada yang berkarir tetapi tidak sebagai
kepala rumah tangga. Namun realitas di masyarakat,
banyak perempuan yang harus memilih keduanya karena keadaan atau alasan
tertentu, artinya selain berperan sebagai ibu rumah tangga mereka juga menjadi
tulang punggung dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.
Banyak faktor yang menyebabkan perempuan harus menjadi kepala keluarga.
Dilansir dari mediaindonesia.com faktor yang menyebabkan seorang
perempuan menjadi kepala keluarga di dalam rumah tangga antara lain karena kasus
perceraian, perempuan hamil yang mempunyai anak kemudian di tinggal laki-laki,
dan karena suami meninggal. Alasan lainnya yaitu suami kehilangan fungsi
sebagai pencari nafkah utama karena sakit atau kecelakaan atau suami pergi
dalam waktu lama tanpa memberi nafkah dan ada juga perempuan nonmarital tetapi
punya tanggungan keluarga.
Dikutip dari Harian
Kompas edisi 3 Agustus 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018
mencatat ada 10,3 juta rumah tangga dengan 15,7 persen perempuan sebagai kepala
keluarga. Jumlah angka tersebut bisa meningkat setiap tahunnya terlebih pada
masa yang serba sulit ini karena tidak sedikit rumah tangga yang tidak bisa survive
kemudian memilih berpisah selain itu laporan perihal kekerasan di lingkup ruah
tangga juga memicu perceraian yang menyebabkan bertambahnya jumlah perempuan
yang menjadim kepala keluarga.
Pandemi covid-19
sejak kemunculannya menuai kebijakan-kebijakan baru yang mengatur aktivitas
masyarakatnya terlebih aktivitas yang dilakukan di luar rumah untuk menghindari
paparan virus covid-19. Bagi sebagian orang yang memang bisa melakukannya di
rumah saja tentu bukan persoalan penting. Namun, bagi mereka dengan
matapencaharian yang harus dilakukan
dari luar rumah, mereka sangat rentan terpapar virus hal ini menjadi tantangan
tersendiri khususnya bagi perempuan kepala keluarga.
Kedudukan di
Masyarakat
Perempuan kepala keluarga seringkali kurang
mendapat kesempatan di masyarakat. Mereka cenderung tersisihkan karena jarang dilibatkan
dalam pertemuan atau musyawarah. Suara-suara mereka tidak pernah tersampaikan
dan bahkan dianggap tidak penting, budaya patriarki yang masih melekat di
masyarakat memosisikan perempuan yang harus manut atau menurut dengan
keputusan laki-laki padahal pengalaman menjadi kepala rumah tangga laki-laki
tentu sangat berbeda dengan perempuan yang memegang peran ganda.
Ketakterlibatan perempuan dalam suatu forum
yang sifatnya umum yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak membuat
perempuan kepala keluarga tidak mendapatkan akses informasi, keterlambatan
pendataan yang berakibat bantuan tidak terdistribusi secara menyeluruh, padahal
rata-rata perempuan kepala rumah tangga hidup dengan penghasilan cukup saja
bahkan kekurangan.
Keberadaan kepala keluarga perempuan juga
kerap mendapat stigma janda oleh masyarakat. Perempuan yang
harus bekerja dari pagi sampai malam untuk menutup kebutuhan sehari-hari juga
tidak luput dari stigma tersebut. Lebih parahnya stigma itu justru datang dari
perempuan juga yang seharusnya saling mendukung, menguatkan, dan membantu
justru menjadi toksik sesama perempuan.
Tantangan yang Dihadapi
Menjadi perempuan kepala keluarga yang memang
menanggung beban ganda memang tidak mudah, berbagai kesulitan-kesulitan harus dihadapi. Di
masa pandemi dengan keadaan yang serba tidak tentu ini mereka harus mampu
bertahan hidup dan menghidupi keluarganya sedangkan mencari pekerjaan juga
sangat sulit. Sedangkan sebagian dari perempuan yang menjadi kepala rumah
tangga gidup di bawah garis kemiskinan.
Di masa pandemi ini banyak perusahaan atau
industri yang gulung tikar sehingga tidak mampu mengupah para karyawan
akibatnya banyak karyawan yang mayoritas perempuan kepala keluarga ter-PHK. Di
sisi lain untuk mendapatkan pekerjaan yang layak tentu saja butuh skill dan
pengetahuan, mempunyai relasi positif yang saling memberdayakan, dan lain
sebagainya hal ini dapat tercapai jika mengenyam pendidikan yang layak.
Dilansir dari compas.com (3/8) Data BPS
yang sama menunjukkan 42,57 persen tidak punya ijazah, jumlah paling besar di
Nusa Tenggara Barat, Aceh, Daerah Iatimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan
Jawa Timur. Kemudian sebanyak 26,19 persen berpendidikan sampai Sekolah Dasar
(SD), 10,69 persen berpendidikan sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan
20,55 persen hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) ke atas.
Tentu saja dengan melihat latar belakang
pendidikan yang masih minim ini pengetahuan yang didapat juga relatif kecil
sehingga pekerjaan yang dilakukan umumnya bekerja di sektor informal seperti
pekerjaan domestik seperti PRT (pembantu rumah tangga), buruh cuci, dan lain
sebagainya yang mempunyai pendapatan
dibawah Rp 1 juta perbulan karena memang sulitnya mencari pekerjaan.
Memastikan Gizi Anak
Setelah menguraikan apa saja tantangan yang
harus dihadapi perempuan kepala keluarga di luar, ada juga tantangan baru dalam
keseharian di rumah. Perempuan kepala keluarga yang mempunyai anak yang sedang
masa pertumbuhan tentunya butuh asupan makanan-makanan sehat dan bergizi oleh
karena itu seorang ibu harus cermat dengan pola makan anak dan memastikan
ketersediannya.
Pada dasarnya anak-anak membutuhkan asupan
gizi yang maksimal untuk mendukung perkembangan tumbuh kembang anak. Jika pada
usia bayi kebutuhan gizi sangat bergantung dengan ASI atau sufor (susu
formula), seiring berjalannya waktu anak membutuhkan penunjang asupan gizi dari
makanan lain karena yang seimbang juga membuat anak memiliki energi yang cukup
dan lebih aktif.
Ibu yang menjadi kepala rumah tangga sekaligus
single parent mau tidak mau harus keluar berkali-kali keluar ke pasar
menyediakan bahan makanan yang segar sehingga seorang ibu rentan terpapar virus
covid-19. Di masa pandemi, meskipun pemerintah sudah memberikan kebijakan new
normal tetapi munculnya klaster di pasar juga perlu diwaspadai.
Pendidikan Anak
Sekolah merupakan sakag satu lembaga
pendidikan yang ikut terdampak dengan adanya pandemi ini. Menghindari penularan
virus covid-19 di masa pandemi pemerintah membuat kebijakan kepada siswa-siswi
untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara virtual sehingga anak harus
mengikuti pembelajaran dari rumah. Dari sini tugas seorang ibu bertambah lagi,
sebagai satu-satunya pencari nafkah juga harus memastikan buah hatinya
mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik.
Problematika yang terjadi di masyarakat selama
ini, tidak semua orang tua terlebih dengan penghasilan rendah mempunyai akses
gawai pintar untuk ikut serta dalam pembelajaran virtual. Secara teknis masih
ada orang tua yang tidak bisa mengoperasikan gawai pintar padahal dalam
kegiatan belajar mengajar anak dituntut untuk bisa mengoperasikannya.
Pelajaran yang diajarkan juga terbilang asing
bagi sebagian orang tua. Siswa yang tidak bisa memahami pelajaran dengan baik
tentu akan kesulitan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru sedangkan
tidak sedikit orang tua yang juga kuwalahan dengan tugas-tugas anaknya.
Solusi
Perempuan Beban Berlapis
Intesitas waktu perempuan kepala keluarga
dengan beragam pekerjaan yang padat akan membuat mereka cepat merasa lelah yang
menyebabkan imunitas menurun. Padahal banyak anggota keluarga yang bergantung
dengan keberadaannya jadi mereka juga harus bisa menjaga kesehatan dengan
istirahat dan makan yang cukup tidak lupa menambah vitamin atau suplemen agar
tubuh tetap berenergi dan bugar.
Selain itu, pemerintah setempat seharusnya
lebih intensif mengalokasikan dana desa untuk membantu mereka terutama bagi
perempuan kepala keluarga yang memang paling rentan terhadap masalah ekonomi.
Solidaritas antar-warga untuk saling mendukung harus dibangun dengan
sungguh-sungguh agar dapat menyentuh kepentingan perempuan kepala keluarga.
Bantuan langsung berupa uang tunai dan sembako seyogyanya dapat menjangkau
mereka.
Menerapkan aspek-aspek pemberdayaan umum yang
meliputi upaya pemungkinan, penguatan, perlindungan, penyokongan, dan
pemeliharaan. Beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam melakukan
pemberdayaan perempuan kepala keluarga antara lain; membangun kesadaran
menerima situasi dengan penuh rasa hormat, menumbuhkan kesadaran akan potensi
yang dimiliki, menumbuhkan solidaritas kelompok, dan membuat jejaring para
perempuan kepala keluarga guna memperluas wawasan, pengetahuan, dan akses pada
sumber daya.
*20 naskah terpilih call for essay ''Muslimah Designer Peradaban" yang diadakan oleh Bidang Kemuslimahan Forum Mahasiswa Muslimah Pascasarjana (FOMMPAS) UNS 2020.
Komentar
Posting Komentar