MENIMBANG DAMPAK PEMBALUT SEKALI PAKAI DAN ALTERNATIFNYA DI LINGKUNGAN PESANTREN*
Oleh: Lutfiana Zulfa
Pendahuluan
Sampai saat ini sampah masih menjadi persoalan besar bagi kita bersama. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 67,8 juta ton sampah setiap tahunnya. Ini diasumsikan jika sertiap orang menghasilkan 0,7 kg sampah per hari. Jumlah tersebut akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Sebagian besar sampah-sampah tersebut berasal dari limbah rumah tangga, baik sampah organik maupun anorganik. Jika tidak dikelola dengan baik dan benar tentunya akan membuat lingkungan tercemar, mengganggu kenyamanan, kebersihan bahkan kesehatan.
Salah satu jenis sampah anorganik yang dapat mencemari lingkungan adalah sampah pembalut sekali pakai. Pembalut sekali pakai umumnya terbuat dari material yang tidak ramah lingkungan diantaranya mengandung plastik mulai dari bagian penyerap, lapisan anti air, pembungkus pembalut, hingga kemasan yang sulit terurai. Dilansir dari CNN Indonesia, jika rata-rata perempuan menggunakan 4-5 pembalut sekali pakai dalam satu hari dikalikan dengan lama periode menstruasi setiap bulan. Estimasinya setiap perempuan menyumbang kira-kira 300 sampah pembalut setiap tahunnya. Meskipun angka tersebut bukan angka pasti, bukan tidak mungkin limbah pembalut akan tercecer di lautan dan mencemari lingkungan.
Pesantren mempunyai peran vital dalam menjaga kebersihan lingkungan. Hal ini karena di samping sebagai tempat menimba ilmu, pesantren termasuk kawasan pemukinan sehingga meningkatkan kebutuhan akan pengelolaan sampah yang efektif. Semakin meningkatnya kuantitas santri, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi pesantren, termasuk pengelolaan sampah rumah tangga. Data statistik KEMENAG RI menunjukkan jumlah pesantren di Indonesia sebanyak 27.722 dengan 4.175.555 santri. Data tersebut mengidentifikasikan urgensi pesantren akan pengetahuan tentang pengelolaan sampah, termasuk limbah pembalut sekali pakai.
Rata-rata pesantren khususnya di Trenggalek masih menggunakan dua cara dalam mengelola sampah ini. Berdasarkan lima responden alumni pesantren berbeda di Trenggalek, dua pesantren menyatakan limbah pembalut sekali pakai berakhir di TPA, sedangkan dua lainnya dibakar. Hanya satu pesantren yaitu di pondok pesantren Hidayatut Thullab Kamulan Trenggalek yang mewajibkan penggunakan pembalut kain (PK) sebagai alternatif pembalut sekali pakai untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Selain PK ada juga alternatif lain yaitu Menstrual Cup (tampon), tetapi yang lebih relate dengan santriwati adalah PK. Menurut penulis inisiasi ini menarik untuk dikaji dan dinilai sangat penting karena melihat dampak positifnya.
Dampak Buruk Pembalut Sekali Pakai
Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, pembalut sekali pakai sangat berdampak bagi kelestarian lingkungan. Dilansir dari Aliansi Zero Waste Indonesia, pembalut sekali pakai memang dinilai lebih ekonomis dan praktis tetapi akan berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan. Dari segi kesehatan, pembalut sekali pakai diproduksi secara massal dengan berbagai proses kimiawi. Pembalut ini mengandung bahan kimia berbahaya seperti plastik, dioxin, pemutih pestisida dan fragrance. Lebih lanjut lagi pembalut ini tidak terbuat dari 100% kartun melainkan terbuat dari cellulose gel sehingga mengandung berbagai macam bahan kimia.
Dikutip dari Women’s Voices for the Earth tahun 2014 menemukan kandungan aseton serta bahan berbahaya lainnya seperti styrene dalam pembalut sekali pakai. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) kandungan tersebut termasuk dalam kategori bahan kimia karsinogen yang dapat memicu kanker. Selain itu, WHO juga menyatakan bahwa zat-zat beracun seperti dioxin bisa menyebabkan berbagai jenis penyakit lain seperti thyroid malfunction, infertility, dan masalah imun.
Pembalut sekali pakai juga termasuk sampah yang sulit terurai karena sebagian besar bahannya menggunakan plastik. Sekitar 42% berasal dari bahan superabsorben polimer yang mana bahan jenis ini baru bisa terurai setelah ratusan tahun. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juka mengklasifikasikan limbah pembalut sebagai sampah tidak terolah yang kemudian terbuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Akibat buruknya, sampah ini akan menumpuk dan seiring berjalanannya waktu akan mengeluarkan gas metana yang berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.
Sebagian besar pondok pesantren di Trenggalek memusnahkan limbah pembalut sekali pakai dengan cara dibakar. Dari segi fisik cara tersebut memang mengurangi kuantitas sampah tetapi dampak buruk tentunya tetap ada. Dikutip dari CNN Indonesia, sebagaimana yang dihadirkan melalui film dokumenter berjudul The Story of Stuff. Film ini menceritakan perihal siklus barang-barang yang dipakai manusia sebagai bentuk kritik atas konsumerisme dan mengkapanyekan kelestarian lingkungan. Film tersebut berdurasi 21 menit dan memperlihatkan bagaimana asap dan racun akibat dari pembakaran sampah. Proses pembakaran sampah menghasilkan senyawa dioksin. Jika terhirup, dioksin bisa meracuni tubuh. Film tersebut juga mendefinisikan dioksin sebagai racun paling berbahaya yang diciptakan manusia.
Alternatif Pembalut Sekali Pakai
Melihat dampak buruk dari pembalut sekali pakai, alternatif pembalut reusable menjadi sangat penting. Misalnya menstrual cup dan PK selain alasan lingkungan, produk tersebut relatif aman bagi kesehatan dan organ reproduksi karena hampir tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Menstrual cup berbentuk seperti cangkir kecil terbuat dari silikon yang fleksibel. Cara kerjanya tidak seperti pembalut sekali pakai atau PK melainkan menampung darah menstruasi di dalam vagina kemudian dapat dibersihkan dan dipergunakan kembali.
Daya tampung menstrual cup sebanyak 29.57 ml cairan sehingga meminimalisis kebocoran. Produk tersebut dapat digunakan hingga 12 jam saat menstruasi dibanding pembalut sekali pakai atau PK yang hanya 4-6 jam saja. Menggunakan menstrual cup dapat menghilangkan bau tidak sedap saat menstruasi karena sifatnya kedap udara. Produk ini dinilai lebih mudah dan efisien meskipun terdapat pro dan kontra dalam pemakaiannya karna penggunaannya harus dimasukkan ke dalam vagina.
Alternatif kedua seperti yang populer digunakan orang-orang jaman dahulu sebelum adanya produk sekali pakai yaitu pembalut kain (PK). Bahkan di beberapa pondok pesantren ada yang mewajibkan santriwatinya menggunakan produk ini. Seperti halnya namanya pembalut kain (PK), produk ini terbuat dari kain atau sobekan kain yang tidak terpakai dan dibentuk menjadi pads.
Dari segi kesehatan, PK termasuk produk yang aman karena tidak mengandung bahan klorin. PK juga terdapat pori kain yang membuat sirkulasi udara menjadi lancar sehingga mengurangi kelembapan yang dapat membuat iritasi kulit. Dari segi ekonomis PK relatif murah dibanding produk lainnya. Waktu pemakaian PK juga relatif panjang sehingga dapat menghemat pengeluaran tiap bulan. Sedangkan jika menggunakan pembalut sekali pakai membutuhkan persedian cukup dan harus membelinya setiap bulan.
Islam Mengajarkan Menjaga Kebersihan
Alasan lebih lanjut menimbang kembali pemakaian pembalut sekali pakai dengan produk yang lebih ramah lingkungan, selain merujuk pada masalah sampah global dan kesehatan juga mengacu pada ajaran agama. Pentingnya menjaga kebersihan dan keseimbangan alam banyak disinggung dalam alQuran maupun Hadis. Istilah dalam alQuran maupun Hadis yang mengidentifikasi pentingnya menjaga kebersihan sebagai berikut. Dalam alQuran istilah thaharah sebanyak 31 kata dan tazkiyah ada 59 kata. Sementara dalam hadis terdapat kata nazhafah sebagaimana dapat dilihat dalam riwayat berbunyi ‘’al-Nazhafatu minal Iman’’.
Atas dasar motif tersebut terbentuknya program ekopesantren yang berperan dalam memberdayakan komunitas pesantren untuk meningkatkan kualitas lingkungan berdasarkan alQuran dan Hadis. Motif gerakan ini tidak lain untuk meningkatkan pengetahuan tentang lingkungan hidup dan aksi-aksi dalam berkontribusi di bidang lingkungan. Ekopesantren juga sebagai penghargaan pada pesantren-pesantren yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan hidup dan konservasi alam.
*diikutsertakan lomba literasi santri kategori mahasiswa dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional PCNU Trenggalek 2021.
Komentar
Posting Komentar