Menjadi Guru AUD

 
 Tidak terbayangkan sebelumnya jika saya akan berkecipung di dunia pendidikan tepatnya di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Seingat saya memang pernah terbersit menjadi guru anak usia dini (AUD) tapi cuma sambil lalu sebab merasa tidak cocok dengan dunia anak, lagipula kuliah yang saya ambil bukan untuk di lembaga tersebut.

 Entah apa yang membawaku sampai di lembaga ini. Bermula dari rekomendasi rekan yang sama-sama mendaftar di suatu lembaga. Dia diterima, sedangkan aku tidak. Dia menyarankanku untuk melamar di tempat lain yang kebetulan sedang membuka lowongan, and finally akupun diterima. Aku tidak punya alasan lain untuk menolak karena sejak awal aku sudah memutuskan untuk mendaftar. Sebagai fresh graduate dan menjaga integritas diri akupun menyanggupi.

 Namun, ternyata apa yang aku khawatirkan betul terjadi. Tidak mudah menjadi fasilitator di kelas kanak-kanak. Aku bingung bagaimana menangani anak yang menangis, berkelahi, tantrum, bahkan yang kebelet pipis sekalipun. Secara naluri aku punya kecenderungan terhadap anak-anak dari segi kecerdasan dan keaktifan. Aku akui ini bentuk ketidakadilan dan tidak boleh dilanggengkan.

 Bersama mereka aku banyak berproses terutama bagaimana aku harus bisa mengajar sekaligus bersosialisasi baik dengan kolega maupun wali murid. Bagi sebagian orang hal ini biasa, tetapi bagiku, sebagai orang yang punya kecenderungan introvert aku merasa strugglenya luar biasa baik dari segi fisik maupun nonfisik.

 Selain itu, sebisa mungkin aku harus bisa multitasking di dalam kelas. Ketika menuntaskan A secara bersamaan harus menangani C tambah lagi D. Tak jarang saat aku harus menyelesaikan admistratif di kelas lalu secara bersamaan ada anak yang berkeliaran, lalu menangis, bahkan berkelahi. Kalau bahasa jakselnya mungkin challenging, ha..ha..

 Namun dari semua hal yang kurang menyenangkan itu, aku bersyukur bisa dekat dengan anak-anak. Belajar memahami mereka meski tidak mudah, mengulang kembali mata kuliah pedagogi yang pernah diajarkan. Terutama bersyukur menjadi bagian dari sebab mereka tersenyum.

Komentar

Postingan Populer