Pola Perbedaan Laki-laki dan Perempuan
Hari pertama mengikuti kelas Nikah Institut (26/11) yang diampu oleh Ning Nurul Hidayati atau biasa dipanggil Ning Abel. Beliau membuka kelas dengan menunjukkan tangkapan layar WAG laki-laki dan Perempuan setelah dipersilakan perkenalan yang mana grupnya memang dipisah.
Ternyata grup laki-laki tidak seheboh grup perempuan. Saat perkenalan, grup laki-laki cukup menyampaikan nama, alamat, profesi sebagaimana perintah Ning Nurul. Sebaliknya di grup perempuan lebih rame mereka akan merasa dekat ketika ada kesamaan misal tempat tinggal atau pekerjaan jadi saling berbalas chat dan perkenalannya jadi tertimbun. Dapat disimpulkan bahwa laki-laki cenderung fokus pada tujuan sedangkan perempuan lebih detail dalam menanggapi sesuatu.
Pola perbedaan pria dan wanita ditinjau dari beberapa aspek. Misal dari segi keilmuawan atau kedokteran pola perbedaan tersebut ditentukan oleh gen yang ada pada otak manusia. Susunan otak antara pria dan wanita memiliki perbedaan yang berpengaruh pada kondisi hormonal pria dan wanita yang kemudian berpengaruh juga pada perilaku pria maupun wanita.
Ditinjau dari segi psikoanalisis pola perbedaan pria dan wanita terdapat pada insting atau naluri ketidaksadaran manusia. Sedangkan ditinjau dari teori psikologi didasarkan pada proses modelling (meniru apa yang dilihat dari orang terdekat atau yang diidolakan). Ditinjau dari segi antropologi dan sosiologi didasarkan pada kesepakan peran antara pria dan wanita dalam masyarakat.
Bagaimana susunan otak kondisi hormonal memengaruhi perbedaan pola tersebut?
Susunan otak pria dan wanita berbeda, hal ini menyebabkan aktivitas pria dan wanita juga berbeda. Misalkan susunan otak atau yang disebut korpus kalosum, yakni syaraf yang menghubungkan antara otak kiri dan otak kanan manusia. Semakin korpus kalosumnya tipis maka seseorang semakin sulit melakukan aktivitas untuk melakukan dua aktivitas dalam satu waktu. Jika korpus kalosumnya tebal maka orang tersebut akan lebih mudah melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Nah, korpus kalosum yang tipis itu kebanyakan dimiliki oleh pria sedangkan korpus kalosum yang tebal kebanyakan di miliki oleh wanita.
Contoh yang sering kita lihat ketika anak laki-laki asyik dengan hape atau main game mereka seringkali tidak mendengar ketika kita panggil. Dalam rumah tangga juga demikian, saat suami sedang sibuk hape, meeting, atau baca koran ketika diajak ngobrol istri tidak fokus. Suami akan mendengarkan hal-hal yang penting saja. Berbeda dengan istri atau ibu mereka bisa melakukan beberapa pekerjaan rumah dalam satu waktu.
Dengan demikian tidak perlu menyamakan antara pria dan wanita, sehingga kalau ada masalah atau topik penting yang ingin dibicarakan alangkah baiknya tanyakan dulu waktu yang sekiranya suami siap mendengarkan secara utuh dan fokus. Selain itu, suami juga harus kooperatif dengan menerapkan pola komunikasi yang baik kepada istrinya misalkan “Sebentar ya sekarang masih meeting, mungkin 30 menit lagi’’, jika sudah demikian istri haruslah sabar menunggu karena dari segi otaknya pria tidak bisa mendengarkan terlalu banyak.
Korpus kalosum juga berpengaruh pada pola berbicara. Otak perempuan saat berbicara menggunakan otak kanan dan otak kiri. Kebutuhan untuk berbicarapun juga lebih banyak yaitu sekitar 16.000-20.000 kata perhari. Jika kebutuhan itu tidak terpenuhi maka berakibat pada kesehatan.
Lalu bagaimana
jika tidak ada satupun yang bisa kita ajak bicara atau tidak ada yang kita percayai
untuk meluapkan kata-kata itu. Kak nurul ngendikan bahwa kebutuhan mengeluarkan
kata-kata atau curahan hati tidak hanya secara horisontal atau sesama manusia
tetapi juga secara vertikal yakni hubungan manusia dengan Tuhannya. Pada akhirnya
penting sekali untuk meningkatkan kekhusyuaan kita dalam beribadah. Kerena hal itulah salah satu bentuk
penjagaan Tuhan terhadap hambaNya.
Komentar
Posting Komentar