Resensi Film Taare Zameen Par 2007


Taare Zameen Par merupakan salah satu film garapan Aamiir Khan dan Amole Gupte yang rilis 13 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 21 Desember 2007. Film yang dibintangi artis Darsheel Safary ini bisa dibilang sangat sukses dan berhasil menyabet banyak penghargaan bergengsi pada tahun 2008-2009.

Film ini menceritakan tentang seorang bocah kelas 3 seting SD yang bernama Ishan Nandkishore Awasthi yang sangat suka bermain dan mengamati hal-hal baru. Namun, Ishan tidak seperti teman-teman seusianya. Ia dianggap malas belajar, anak bodoh dan nakal dan jarang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari gurunya.

Nilai ulangannya juga selalu di bawah rata-rata. Saban hari ia selalu dimarahi gurunya sedang di rumah selalu di marahi Ayahnya, Nandkishore Awasti yang diperankan oleh Vipin Sharma.

Tidak tahan dengan kelakuan anaknya, Awasti mengirim Ishaan ke sekolah asrama. Di sana Ishaan merasa tertekan dan sendiri. Ibu dan kakaknya yang selalu melindungi dan menghiburnya kini tidak ada di sampingnya. Ia beranggapan kalau keluarganya memang sengaja membuangnya.

Pada suatu hari kelas Ishaan kedatangan Pak Nikumb yang diperankan langsung oleh Aamir Khan. Dalam film tersebut pak Nikumb juga menjadi pengajar di anak-anak berkebutuhan khusus memiliki ikatan kuat dengan perasaan anak-anak. Di sekolah Ishaan, pak Nikumb mengajar sebagai guru kesenian bersamanya anak-anak diajak untuk bernyanyi, bermain, dan belajar sehingga tidak bosan.

Berbeda dengan Ishaan yang tetap merasa takut, dan minder. Alih-alih tertawa riang seperti teman-temanya Ishaan cuma tertunduk diam sorot matanya menunjukkan bahwa ia butuh pertolongan. Hari berganti hari pak Nikumb menyadari sikap Ishaan yang lebih banyak murung ia lalu memeriksa semua tugas-tugas yang pernah Ishaan kerjakan sehingga ia mulai mengerti apa sebenarnya yang terjadi terhadap bocah tersebut.

Pak Nikumb lantas mengunjungi orang tua Ishaan untuk memberitahu kondisi Ishaan, bahwa ia mengalami disleksia yakni suatu gangguan yang disebabkan oleh kelainan syaraf pada otak yang membuat anak kesulitan membaca.

Dari film tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tidak semua ketidaknormalan menurut kita adalah kesalahan si anak dan yang lebih parahnya menganggap si anak itu bod*h.

Dari film tersebut juga secara tidak langsung mengajarkan orang tua dan pendidik untuk lebih aware dengan perkembangan anak, ketika melihat pencapaian kemampuan dasar seorang anak yang tidak sesuai dengan usianya alangkah baiknya membuat batas red-flag dan konsultasi pada ahlinya.

Tokoh pak Nikumb dalam cerita itu juga penyandang disleksia yang bisa survive, dia mengerti betul apa yang dibutuhkan muridnya, Ishan. Dengan menerapkan pola ajar yang tentunya sesuai dengan kemampuan Ishan, anak itu bahkan tidak hanya bisa menulis dan membaca tetapi mampu menunjukkan bakat lain yang membanggakan.

Komentar

  1. Film yang belum berhasil saya resensi karena banyak menunda. Padahal saya sudah mencatat bagian-bagian penting dari film tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu sudut pandang dari jenengan pak hehe, pasti lebih padat uraiannya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer