Mauludan di Pondok Sirojut Tholibin Plosokandang


dok. pengurus PP. Sirojut Tholibin

Peringatan harlah Nabi Muhammad SAW kian menggema di sekitar pondok pesantren Sirojut Tholibin. Usai berlangsungnya jamaah Maghrib, terdengar lamat-lamat pembacaan Maulid Barzanji dari surau-surau terdekat. Namun, di pondok kami acara baru dimulai ba’da jamaah Isya karena masih ada kelas diniyah.

Menyoal Mauludan atau akrab disebut Muludan saja bagi masyarakat desa merupakan peringatan yang sudah sejak lama dilakukan dengan pembacaan Maulid Barzanji meskipun di beberapa tempat tidak hanya dibaca pada malam 12 Rabiul Awal saja tetapi sudah menjadi rutinan tiap bulan sekali bahkan tiap minggu sekali.

Nama Barzanji dinisbatkan dari nama penganggitnya beliau adalah Syekh Ja’far al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim. Beliau lahir di Madinah pada tahun 1690 dan wafat pada tahun 1766. Barzanji sendiri berasal dari sebuah tempat yang berada di Kurdistan, Barzinj.

Karya tersebut pada mulanya berjudul ‘Iqd al-Jawahir yang berarti Kalung Permata. Kitab ini berisi doa-soa, puji-pujian, dan biografi Nabi Muhammad SAW sampai silsilah keturunan beliau yang dilafalkan dengan irama atau suluk tertentu. Kitab ini disusun untuk lebih meningkatkan mahabah kepada Nabi Muhammad SAW.

Setelah jamaah Isya semua santri kemudian berkumpul di mushola pondok untuk mengadakan pembacaan Barzanji secara bergantian sedangkan yang lain menyimak dan menirukan.

Athiril (A)llahumma Qabrahul Karim, bi 'Arfin Syadiyin min Sholati wa Taslim..

Semua santri menyimak pembacaan Barzanji pada bab-bab tertentu saja untuk menghemat waktu. Kitab Barzanji ini tersususn per bab dan terdiri dari 19 bab yang disebut dengan Athiril. Dalam pelaksanaannya tidak ada keharusan untuk membaca semua bab secara keseluruhan tetapi tentu lebih baik bagi siapapun yang menyempurnakannya. Di pondok kami memang termasuk yang meringkas pembacaannya.

dok. pengurus PP. Sirojut Tholibin

Ketika sampai di Mahalul Qiyam semua santri berdiri hikmat melantunkan shalawat Badar dengan penuh semangat disertai terbangan (kencreng semacam alat musik yang digunakan untuk mengiringi pembacaan shalawat). Shalawat Badar dimaksudkan untuk menyambut kehadiran Baginda Rasul dalam hati terdalam kita, beliau yang kita harap syafaatnya, beliau suri tauladan kita. Mahalul Qiyam menjadi moment romantis ketika hati kita bisa khusyuk menghayati lantunan shalawat itu. Selesai acara pembacaan Barzanji ditutup dengan doa dari pembawa acara.

Bagian yang tidak boleh lupa ketika acara seperti ini adalah berkat (he..he..). Berkat dalam bahasa Jawa mempunyai Kerata Basa atau othak-athik mathuk dari kata mak brek diangkat karena setelah berkat (besek) dikeluarkan masing-masing orang yang mengikuti acara akan mengambil jatahnya, tetapi di pondok kami diwakilkan oleh ketua kamar. Adapun dalam bahasa Arab diambil dari masdar Barakatun atau Barakah yang bermakna ziyadatul khoir kata Imam al-Ghazali yang berarti bertambahnya kebaikan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer