Perihal Kerangka Karangan
Setiap orang punya cara berbeda untuk menghadirkan sebuah tulisan. Adakalanya orang itu dapat menulis hanya sekali duduk tanpa membuat kerangka tulisan terlebih dahulu alias langsung menulis begitu saja apapun yang ada di pikirannya secara sistematis.
Namu, ada sebagian lagi yang perlu membuat kerangka per paragraf terlebih dahulu dan tidak jarang selalu berhenti di tengah-tengah paragraf lantaran kehabisan ide, mengulasnya lagi, mengedit sana-sini. Saya sendiri termasuk yang kedua dan kerap berjeda lama bahkan sampai berbulan-bulan.
Kakak saya pernah ngendikan tulislah apapun yang ingin kau telus entah selesai atau tidak yang penting tulisan itu tersimpan dalam komputermu atau buku catatan, suatu saat bahkan sepuluh tahun yang akan catatan itu akan menjadi harta karun bahkan bisa kau kembangkan lebih jauh lagi.
Hal itu yang kemudian membuat saya suka membuat draft tulisan yang belum selesai lalu menyimpannya di PC dan terbukti beberapa tulisan saya memang berasal dari draft-draft yang sudah saya buat sebelumnya. Bagi saya, membuat draft atau kerangka karangan ini sebetulnya sangat membantu saya menghadirkan sebuah tulisan sesuai dengan kapasitas kemampuan menulis saya.
Kata maestro Ijinkan Aku Jadi Pelacur, Muhidin M. Dahlan semua orang bisa menulis dengan baik lancar dan tidak terbata-bata dibaca orang lain kecuali mereka yang malas. Nah memang kalau dipikir-pikir kenapa draft saya terlalu lama jeda? Tentu tidak lain karena saya malas, malas membaca literatur, malas berusaha, dan kurang dislipin waktu.
Ternyata membuat draft saja tidak cukup jika tidak dibarengi usaha menggali pengetahuan baru baik itu dari pengamatan secara langsung, pembacaan buku, dialog dan berdikusi dan yang terakhir tentu saja mau praktik menulis.

Terus berproses. Hasil tidak akan mengkhianati proses
BalasHapusNggeh abah, hatur nuwun
Hapus