Ketiadaan Santri Langgar di Dukuh Kebon Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek

Pict: Pinterest

Seorang pemuda seperti tidak pernah pulang dan tidur di rumah, saban hari sehabis Maghrib ia mengaji di langgar milik Haji Farlan usai sholat Isya dia tidak lantas pulang tetapi mengaji dan belajar kitab klasik setelah itu bermalam di sana, dia akan bangun ketika waktu fajar terbit, Haji Farlan lah yang membangunkannya. Pemuda itu saban harinya bekerja membantu orang tua demi memenuhi kebutuhan sehari-hari adik-adiknya. Dia merupakan anak kedua dari enam bersaudara yang masih menempuh pendidikan oleh sebab itu tidak sampai hati rasanya melihat kedua orang tuanya pontang-pating sendiri. Ya pemuda itu adalah bapak. Bapak membantu mbahkung dan simbok angon sapi milik tetangganya terkadang juga ikut mencari kayu yang kemudian dijual ke pengepul meskipun jarak tempuh sangat jauh. Kelak ketika bapak berkisah tentang pengalamannya ini Langgar sudah tidak seramai dulu.

Sekitar tahun 75-an pada mulanya Langgar Haji Farlan masih beralaskan anyaman daun kelapa kemudian di atasnya dilapisi tikar pandan sebagai alas salat yang mana jamaahnya pun masih sedikit, hanya warga sekitar dukuh tersebut yang berjamaah di Langgar itu tepatnya di Kebon, Watulimo, Trenggalek. 

Seiring berkembangnya waktu, perbaikan langgar dilakukan demi kenyamanan jamaah. Itu sebabnya Langgar tidak hanya menjadi tempat melaksanakan jamaah salat lima waktu tetapi juga berfungsi sebagai madrasah bagi anak-anak dukuh Kebon. Terdapat sekitar sepuluhan lebih santri Langgar yang belajar mengaji di tempat itu. dinamakan santri Langgar karena mereka belajar mengaji di surau yang lebih dikenal dengan sebutan Langgar.

Santri-santri diampu langsung oleh menantu Haji Farlan, yaitu pak Solikin dan pak Thoiman. Pelajaran yang diajarkan hanya sebatas fiqih ibadah seperti tata cara solat dan wudhu dengan berpatokan kitab Fasholātan karangan Muhammad Asnawi Al Qudsi (mbah Asnawi Kudus). Santri juga diajarkan Al Qur’an menggunakan metode sorogan. Sorogan merupakan salah satu metode yang dikembangkan di pesantren dengan cara sang kyai atau guru menyimak santri di depannya. Santri biasanya menyetorkan hafalan surat-surat pendek, bacaan-bacaan salat, dan kemampuan mengaji Al Quran. Soragan bertujuan agar bacaan santri benar-benar fasih dan sesuai kaidah makhrajnya.

Setelah Langgar dinisbatkan menjadi masjid dan direnovasi jamaah lebih banyak daripada sebelumnya. Namun tidak ada lagi santri yang masih menginap di masjid barangkali hanya satu atau dua orang pengajar yang masih lajang yang mau tidur di masjid dan itu pun juga cucu Haji Farlan sendiri. Setiap hari dialah yang mengumandangkan azan berikut dengan puji-pujian selain itu dia juga yang menimbakan ke kulah masjid yang diperuntukkan untuk jamaah salat subuh yang hendak berwudhu di tempat, serta menjaga kebersihan masjid atau bisa dikatakan sebagai marbut. Marbut ialah orang yang menjaga dan mengurus masjid.

 Saya kecil masih merasakan nuansa ‘sekolah langgar’ yang diajar oleh pemuda-pemuda jebolan pesantren. Santrinya memang tidak banyak tetapi terdiri dari berbagai usia ada yang masih SD ada juga yang belum bersekolah termasuk saya (pada waktu itu). Kami datang ketika sore hari dan pulang menjelang magrib ada juga yang setelah isya’. Namun sekarang ini -ketika masjid sudah direnovasi- tidak ada anak-anak yang mengaji di masjid kecuali bulan Ramadhan saja. Faktanya (setidaknya sampai saat ini) masjid hanya difungsikan sebagai tempat salat dan jamaah Yasinan Putra setiap malam Jumat Legi.

Kondisi tersebut memang wajar dilihat dari pola hidup masyarakat cenderung mensupport anak-anaknya mengikuti les atau bimbel untuk menyuplai kebutuhan akademik di sekolah daripada mengikuti sekolah langgar. Pasalnya kebutuhan akan pendidikan formal lebih diutamakan para orang tua daripada mengaji di langgar. Selain itu, beberapa faktor dalam pada anak-anak juga mempengarui enggannya mengikuti kegiatan mengaji di masjid atau pun di madrasah diniah. Di sekitar lingkungan tempat tinggal saya hal ini dipengaruhi oleh kesibukan anak-anak yang sudah menempuh pendidikan menengah baik menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Dan khususnya anak-anak sekolah dasar cenderung bermain dengan teman-teman sebaya dan melupakan kegiatan mengaji.

Perubahan yang terjadi memang suatu keniscayaan. Bisa saja jika dulu masjid ramai dengan anak-anak mengaji sedang sekarang tidak tetapi esok justru berdiri madrasah diniah di masjid itu. Menurut Pitrim A. Sorokin (1889-1968) Proses perubahan sosial mengikuti alur siklus atau linier. Teori siklus sebagai teori perubahan sosial melihat perubahan sebagai hal yang wajar. Peradaban suatu bangsa akan berjaya kemudian terpuruk, lalu akan berjaya kembali dan begitu seterusnya. Siklus juga dapat berarti proses linier dari kelahiran, mapan, menuju keruntuhan dan bisa sebaliknya. Dan sampai saat ini usaha-usaha ‘mengadakan ngaji’ lagi masih dilakukan salah satunya menyediakan gazebo kecil untuk sorogan anak-anak yang diampu oleh kang Fuad, cucu almarhum Haji Farlan sendiri.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer