Sampai Larut Malam

Usai lampu dimatikan hingga menyisakan lampu kecil sebagai penerang, suara lamat-lamat antara detak jarum jam, suara jangkrik malam yang kedinginan, dan suara televisi tetangga. Seorang perempuan meringkuk mengeja ingatan yang sempat singgah menggelitik ketenangannya namun sekaligus menyisakan haru yang gelisah.

Ini bukan soal apa-apa bukan tentang laki-laki yang ditaksirnya tiga tahun silam yang di dalam tempurung kepalanya berisi teori-teori filsafat yang membingungkan, bukan juga tentang filosofi bertani bapak, ia tegaskan sekali lagi bukan tentang apa-apa. Hanya soal pohon rambutan, ya itu saja.

Pagi tadi setelah memisahkan tangkai dengan daun Syzygium aromaticum alias cengkih, ia berkunjung ke dalem simboknya. Untuk menuju ke sana perempuan itu cuma butuh melangkah sebentar saja sebab orang tuanya dulu memang tetangga. Sampai di dalem simbok ia mengobrol sebentar seperti orang dewasa pada umumnya yang mengeluhkan harga cengkih merosot jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagai petani cilik memang hal itu sangat merugikan sekali. Oh iya menyoal pohon rambutan!

Setelah perempuan itu asyik mengobrol lantas kakinya menuntun ke halaman rumah simbok, halaman itu tidak terlalu luas tetapi berbagai tumbuhan subur di sana. Ada serai, jeruk nipis, jambu, pisang, bahkan pagarnya pun berupa beluntas yang biasa dipetik tetangga untuk lalapan. Namun ada satu lagi yang membuat perempuan itu tertegun lama, tetiba ada perasaan haru dan rindu.

Pohon rambutan, kawan!

Pohon itu pernah rimbun dan buahnya tidak terlalu manis meskipun begitu pohon itu selalu menjadi rebutan cucu-cucu simbok ketika musim rambutan tiba. Sepupu perempuan itu yang notabennya laki-laki mereka dengan mudahnya memanjat dan mencapai buah rambutan yang besar dan ranum dibanding ia yang cuma memungut lemparan kakak-kakak sepupunya dari atas meski begitu mereka tetap bersukacita dan ramai-ramai membaginya sama rata.

Namun itu sudah lampau sekali perempuan itu bahkan sudah duduk di bangku kuliah dan sepupunya ada yang sudah menikah, dan ada juga yang bekerja di luar negeri, sebagian lagi beternak ayam di rumah. Pohon itu kini sudah tak berdaun sama sekali hanya menyisakan pohon dan ranting-ranting yang kian hari semakin mengering ada bekas cantelan kayu untuk menyangga lampu jalan karena memang letaknya di samping tikungan gang.

Pohon itu masih berdiri ditemani tumbuhan-tumbuhan segar nan hijau. Pohon rambutan itu sekali lagi membuat perempuan itu susah tidur. Memoar masa kecilnya terus-menerus berkelindan mengingat yang masih ada dan yang sudah tiada. Sampai ia tersadar memoar itu sedang diabadikan sampai larut malam dan terdengar dengkuran bapak dari kamar sebelah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer