NGUDI SUSILA KARYA K.H. BISRI MUSTOFA
Dulu sewaktu masih ngaji diniah kira-kira masih kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI) salah satu pelajaran yang saya sukai adalah syi’ir Ngudi Susila yang dianggit oleh Allahu yarham K.H. Bisri Mustofa asal Rembang, Jawa Tengah. Sayangnya baru setelah lulus MI mengetahui kalau beliau adalah ayahanda K.H. Mustofa Bisri a.k.a Gus Mus melalui tulisan kakak saya. Memang saya dulu lebih relate dengan Gus Mus melalui puisi-puisinya atau lebih tepatnya kiai sekaligus sastrawan sebelum akhirnya mengenal ayahandanya, selanjutnya saya tulis Kiai Bisri.
Kiai Bisri merupakan salah satu ulama besar di Indonesia. Beliau dilahirkan pada tahun 1915 M atau bertepatan tahun 1334 H di kampung Sawahan Gg. Palen Rembang Jawa Tengah. Sejak lahir beliau di beri nama Mashadi yang kemudian berganti nama menjadi Bisri Mustofa setelah menunaikan ibadah haji.
Kiai Bisri adalah murid sekaligus menantu dari Kyai Cholil (pengasuh pondok Kasingan), sebelumnya beliau pernah berhenti mondok lantaran tidak kerasan tetapi pada tahun 1930 beliau diperintahkan untuk kembali ke Kasingan meskipun tidak langsung belajar kepada kyai Cholil melainkan kepada Suja’i, kakak ipar Kiai Cholil.
Di bawah pengajaran Suja’i tersebut Kiai Bisri menguasai kitab Alfiyah Ibn Malik (kitab yang berisi tata bahasa dalam bahasa Arab karangan Syeikh al-‘Alamah Muhammad Jamaluddin ibn Abdillah ibn Malik). Dengan kemampuan tersebut Kiai Bisri kemudian belajar kitab-kitab yang lain di bawah pengajaran Kiai Cholil.
Syi’ir Ngudi Susila merupakan salah satu karangan Kiai Bisri yang selesai ditulis pada Jumadil Akhir tahun 1373 H. Syi’ir ini berisi 84 nadzam dan terdiri dari beberapa bab yang sarat akan nilai-nilai keluhuran dan mudah dipahami terutama bagi anak-anak karena sangat erat dengan perilaku sehari-hari. syi'r dalam kitab kecil ini ditulis dengan tulisan Arab pegon berbahasa Jawa dan mudah dibaca meskipun ada beberapa kata yang sampai sekarang saya belum pahami karena memang beberapa istilah berbeda di tiap daerah seperti kata ‘’pijer’’, ‘’kumalunggung’’, ‘’merdi’’, ‘’beka’’.
Secara garis besar nadzam-nadzam tersebut mengajarkan kita khususnya kepada anak-anak sekolah dasar agar senantiasa menjahui perilaku yang tercela, memiliki sikap sopan santun, sabar patuh kepada orang tua, religius, qanaah, adil, jujur, rajin dan bersungguh-sungguh, patuh kepada guru, mempunyai jiwa kepemimpinan, toleransi, bersajabat, dan demokrasi.
Sebagaimana yang disampaikan Kiai Bisri pada muqaddimah nadzam Ngudi Susilo bait ke 5 berikut ini;
كودو ترسنا ريڠ ايبوني كڠ ڠروماتي # كاويت چيليئ ماراڠ بفا كڠ ڮماتي
Kudu tresna reng ibune kang ngerumati # kawit cilik marang bapa kang gemati
Kiai Bisri menerangkan bahwa seorang anak sudah semestinya mencintai kedua orang tuanya, tidak boleh melawan keduanya terutama ibu karena ridhonya Ibu bisa jadi menjadikan sebab Allah ridho kepadanya, tidak menyakiti hatinya sampai membuatnya menangis.
Pada bab yang lain Kiai Bisri juga menganjurkan bahwa anak-anak harus mempunyai cita-cita luhur dengan berbekal pengetahuan umum, agama, serta selalu ingat kepada Tuhannya agar selamat dunia dan akhirat.[]

Tulisam yang menarik
BalasHapusHatur nuwun rawuhnya pak🙏
HapusPendidikan karakter yang membumi. Tulisan yang menginspirasi.
BalasHapusInggih bu, eman sekali jika kalau sampai dilupakan. Hatur nuwun rawuhnya🙏
HapusMenarik sekali, sungguh luar biasa semangat literasi ulama nusantara dahulu. Karyanya sungguh inspiratif. Semoga kita tetap melestarikan semangat literasinya, bukan hanya membanggakannya.
BalasHapusĀmīn, hatur nuwun rawuhnya..
HapusMenarik sekali, sungguh luar biasa semangat literasi ulama nusantara dahulu. Karyanya sungguh inspiratif. Semoga kita tetap melestarikan semangat literasinya, bukan hanya membanggakannya.
BalasHapusAlhamdulillah, tulisan menarik, terus di asah kemampuannya, semoga mendapatkan ilmu yg barokah dan manfaat
BalasHapusHatur nuwun rawuhnya🙏
Hapusnggeh sami"
Hapus