Belajar Mendidik Anak Ala Ibunda Gus Asy dalam Novel D.U.R karya Nisaul Kamilah
Pada umumnya orang-orang akan lebih relate dengan benda satu ini tidak peduli dewasa, remaja, bahkan anak-anak, apalagi kalau bukan benda pipih yang bernama telepon pintar alias smartphone. Memang keberadaan smartphone ini akan mempermudah menyelesaikan pekerjaan dan lebih praktis dibawa ke mana-mana. Lalu bagaimana dengan penggunaan smartphone bagi anak-anak? Tidak bisa dipungkiri anak-anak bahkan seusia kita saja lebih aware dengan game online, berselancar di dunia maya, menonton vlog para artis yang hedonis dan prank-prank tidak bermutu. Sebenarnya tidak mengapa melakukan itu semua hanya saja harus bisa mengontrol waktu dan lebih bijak alih-alih menggunakannya dengan hal-hal yang bermanfaat.
Di sini peran orang tua sangat penting untuk senantiasa memberi arahanan untuk anak-anaknya dalam menggunakan smartphone bukan justru berjarak dan membebaskan begitu saja. Orang tua menjadi role mode utama bagi anak-anak karena merekalah orang yang paling sering mereka lihat kesehariannya selama di rumah jadi secara otomatis anak-anak akan akan mencatat ke dalam otak bawah sadar tentang apa yang mereka amati sehari-hari. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan menirunya sewaktu-waktu. Oleh karena itu, kiranya penting bagi orang tua selalu menjaga tutur kata dan perilaku terlebih di hadapan anak-anak.
Menyoal tentang orang tua dalam mendidik anak, saya teringat sebuah novel berjudul D.U.R Diary Ungu Rumaysha karya Nisaul Kamilah yang baru terbit bulan lalu, Mei 2020 dan di bulan yang sama sudah menembus cetakan ke-e. Novel ini sarat dengan nilai-nilai sejarah, falsafah jawa, uraian-uraian ilmu eksak, sampai kisah-kisah para habaib dan ulama. Novel ini juga menceritakan bagaimana peran orang tua dalam mendidik anak sehingga anak-anak memiliki himmah yang kuat meraih apa yang dicita-citakannya.
Gus Asy adalah salah satu tokoh dalam novel D.U.R karya Nisaul Kamilah yang mempunyai seorang ibu yang sangat luar biasa. Ibunda dan Abah Gus Asy sangat memperhatikan literasi anak-anaknya, meskipun berlatarbelakang keluarga pas-pasan Ibu dan Abah Gus Asy tidak segan-segan mendatangkan koran bekas agar anak-anaknya tetap membaca dan bisa menambah wawasan biasanya mereka akan berebut koran minggu untuk membaca kolom sastra, juga membaca puisi-puisi. Diceritakan keluarga Gus Asy tidak mempunyai televisi ketika ada sedikit rezeki uang itu akan sisihkan untuk membangun fasilitas pondok yang sedang dibabadnya.
Gus Asy kecil setiap malam menjelang tidur selalu mendapatkan cerita-cerita keajaiban dunia oleh sang Ibu. Dari mulai Kaisar Vesapian membangun Situs Colosseum pada abad 72 Masehi, The Great Wall of China yang dibangun untuk melindungi wilayah China dari serangan suku Mongol dengan rentang waktu mualai dari tahun 722 SM-1655 M, sampai bangunan Raja Samaratungga dari kerajaan Mataram Kuno, apalagi kalau bukan Borobudur salah satu keajaiban dunia yang dimiliki Indonesia. Konon, candi tersebut selesai di bangun pada 824 M. Ibunda Gus Asy selalu mendongengi anak-anaknya dengan cerita-cerita hebat di masa lalu meskipun anak-anak sudah pandai membaca sendiri.
Ternyata ada cerita hebat yang menginspirasi Ibunda ketika ditanya mengapa selalu mendongengi anak-anaknya. Beliau terinspirasi dari kisah seorang sultan muda yang berhasil menaklukkan konstatinopel, Al Fatih. Diceritakan, guru al Fatih, Syeikh Aaq Syamsuddin sering mengajaknya naik ke puncak bukit memandang ke seberang laut Marmara, kearah Konstatinopel seraya menyitir sabda Nabi SAW: ‘’yang menaklukkan Konstatinopel adalah sebaik-baiknya pasukan, dan pemimpinnnya adalah sebaik-baiknya panglima.’’ (D.U.R., 119)
Sang guru menegaskan agar Al Fatih menjadi salah satu dari yang dijanjikan tersebut entah itu menjadi pasukan atau sebagai panglima. Sejak saat itu semangat juang Al Fatih kian berkobar. Gurunya secara terus menerus membacakan hadis yang sama sepanjang waktu ketika Al Fatih menuntut ilmu agar Islam berjaya jauh sampai tanah Konstatinopel. (D.U.R, 119-120)
Dengan menceritakan kisah-kisah hebat di masa lampau, anak-anak akan selalu mengingat bagaimana perjuangan, laku hidup, dan usaha untuk mencapai prestasi gemilang sampai-sampai tidak lekang oleh sejarah sebagaimana harapan Ibunda Gus Asy agar anak-anaknya mempunyai cita-cita yang tinggi, memiliki impian terarah, memiliki jiwa pemimpin yang besar, dan menjadi orang yang selalu dekat dengan Tuhan.
Dalam cerita itu tidak ada kemewahan menonton acara televisi apalagi sampai kecanduan gadget. Memang benar setiap orang tua akan mempunyai ciri khas atau cara-cara sendiri dalam mendidik anak-anaknya dan fasilitas apa saja yang bisa mendukung tumbuh kembang si anak, hanya saja ketika menggunakan gadget misalnya menentukan jam-jam tertentu dengan fitur atau tayangan edukatif begitu juga dengan televisi, sebab tak jarang orang tua yang abai dengan menonton film dengan kisah-kisah khas dewasa, KDRT, perundungan, kekerasan, dan sebagainya sedangkan anak-anak ikut serta. Tentu saja itu akan berakibat tidak baik bagi anak-anak lebih parahnya akan mengganggu psikis anak.
Orang tua seyogiaya mendampingi proses belajar di rumah, menanyakan hal-hal apa saja yang dipelajari di sekolah, apa ada PR hari ini dan sebagainnya. Mungkin dengan bertanya seperti itu akan mendekatkan orang tua pada anak-anaknya. Selain itu betapa doa-doa orang tua juga sangat berpengaruh bagi anak-anaknya. Dalam kesempatan lain, Nisaul Kamilah juga menceritakan orang tua agar selalu membacakan surah al-Insyiroh sebanyak tujuh kali ketika mereka tertidur kemudian meniupkannya ke ubun-ubun anak agar hati mereka mudah menerima nasihat.
Komentar
Posting Komentar