Akibat COVID-19
Sejak kemunculannya virus ini pada akhir 2019 di kota Wuhan, China, virus yang disebut dengan Corona Virus Disease yang kemudian dikenal dengan sebutan COVID-19 telah meregang ribuan nyawa. Baru setelah ditetapkannya sebagai wabah internasional tepatnya di awal-awal tahun 2020 beberapa negara mulai memberlakukan kebijakan bagi rakyatnya seperti social distancing, menutup sebagian jalan raya dan beberapa tempat umum, termasuk di Indonesia yang gencar mensosialisasikan hastag #DiRumahAja. Kemunculan COVID-19 telah mengubah kestabilan di banyak bidang.
Kebijakan yang ditetapkan tidak serta merta dapat diterapkan begitu saja di Indonesia misalnya, berbagai persoalan kompleks mulai muncul dan berdampak pada sebagian besar sektor perekonomian terutama orang-orang yang berpenghasilan menengah ke bawah. Orang-orang seperti pedagang asongan, penjaga kantin sekolah, tukang becak, sopir angkutan umum, dan masih banyak lagi. Mereka semua merupakan orang-orang yang pekerjaannya tidak bisa dilakukan di rumah. Mereka akan kehilangan pelanggan dan penumpang.
Selain itu di dunia pendidikan juga mengalami persoalan-persoalan akibat COVID-19, kegiatan belajar mengajar yang seharusnya dilaksanakan dengan bertatap muka sekarang dilakukan via daring. Banyak yang mengeluhkan sistem ini di tingkat sekolah dasar misalnya menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua dengan mendampingi putra-putrinya mengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Di lain tempat anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu dan tidak mempunyai gadget tentu akan kesulitan mengikuti pelajaran.
Di tengah-tengah wabah dengan segudang permasalahan ini berbagai cara diupayakan untuk tetap tenang dengan mengupayakan apa yang bisa diupayakan seperti solidaritas kemanusiaan yang sudah dilakukan masyarakat dan para relawan. Selalu ada angin segar yang dihembuskan agar selalu semangat menjalani hari-hari yang penuh keterbatasan ini.
Salah satu kabar gembira yang datang dari para pegiat literasi adalah banyak karya tulis lahir di tengah-tengah pandemi COVID-19, event-event menulis bersama digelar di sana sini melalui pamflet-pamflet media sosial, diskusi-diskusi dan kajian tetap berjalan melalui streaming media sosial, sebagian penulis besar juga ikut andil menyisihkan hasil penjualan bukunya untuk disumbangkan kepada korban akibat COVID-19.
Bagus mbak, yang diambil garis besar permasalahannya. Di paragraf ke tiga baris ke delapan kata "mendapingi" kurang "m" nya.
BalasHapusUntuk lebih lanjut terkait dampak Pandemi Covid-19 di dunia pendidikan bisa mampir ke sini mbak https://artikula.id/dewar/dampak-pandemi-covid-19-antara-objektivitas-dan-rekonstruksi-behavior/. Maaf promosi tulisan. 🙏.
Salam kenal dari sayam
Terimakasih banyak mas, okay tulisan njenengan pancen ngeten👍👍
HapusTerus menulis. Jangan bosan.
BalasHapusNggeh abah Naim, matur nuwun sanget.. Pangestune🙏
Hapus