Degradasi
Santri Langgar di Dukuh Kebon Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek
Oleh:
Lutfiana Zulfa
Seorang
pemuda seperti tidak pernah pulang dan tidur di rumah, saban hari sehabis
Maghrib ia mengaji di langgar milik haji Farlan usai sholat Isya dia tidak
lantas pulang tetapi bermalam di sana, dia akan bangun ketika waktu fajar
terbit, haji Farlan lah yang membangunkannya. baru pagi sampai sore
pemuda-pemuda itu pulang dan membantu orang tua bekerja demi memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Ya pemuda itu adalah bapak.
Bapak membantu mbahkung dan simbok angon sapi milik tetangganya. Kelak ketika
bapak berkisah tentang pengalamannya ini Langgar sudah tidak seramai dulu.
Sekitar
tahun 75-an langgar mbah Farlan masih beralaskan anyaman daun kelapa kemudian
di atasnya dilapisi tikar pandan jamaahnya pun masih sedikit, hanya warga
sekitar dukuh tersebut yang berjamaah di Langgar itu tepatnya di Kebon,
Watulimo, Trenggalek. Namun, selain digunakan sebagai tempat ibadah Langgar
tersebut juga berfungsi sebagai madrasah bagi anak-anak dukuh Kebon. Terdapat
sekitar sepuluhan lebih santri Langgar yang belajar mengaji di tempat itu.
dinamakan santri langgar karena mereka belajar mengaji di surau yang lebih
dikenal dengan sebutan Langgar.
Santri-santri
diampu langsung oleh menantu haji Farlan, yaitu pak Solikin dan pak Thoiman. Pelajaran
yang diajarkan hanya sebatas fiqih ibadah seperti tata cara solat dan wudhu
dengan berpatokan kitab Fasholātan karangan Muhammad Asnawi Al Qudsi
(mbah Asnawi Kudus). Santri juga diajarkan Al Qur’an menggunakan metode sorogan.
Sorogan merupakan salah satu metode yang dikembangkan di pesantren
dengan cara sang kyai atau guru menyimak santri di depannya. Santri biasanya
menyetorkan hafalan surat-surat pendek, bacaan-bacaan salat, dan kemampuan
mengaji Al Quran. Soragan bertujuan agar bacaan santri benar-benar fasih
dan sesuai kaidah makhrajnya.
Setelah Langgar
dinisbatkan menjadi masjid dan direnovasi jamaah lebih banyak daripada
sebelumnya. Namun tidak ada lagi santri yang masih menginap di masjid
barangkali hanya satu atau dua orang pengajar yang masih lajang yang mau tidur
di masjid dan itu pun juga cucu haji Farlan sendiri. Setiap hari ia menimba air
di kulah kamar mandi masjid yang diperuntukkan untuk jamaah solat subuh yang
hendak berwudhu di tempat
Saya kecil masih merasakan nuansa ‘sekolah
langgar’ yang diajar oleh pemuda-pemuda jebolan pesantren. Santrinya
memang tidak banyak tetapi terdiri dari berbagai usia ada yang masih SD ada
juga yang belum bersekolah termasuk saya (pada waktu itu)k. Kami datang ketika
sore hari dan pulang menjelang magrib ada juga yang setelah isya’. Namun
sekarang ini -ketika masjid sudah direnovasi- tidak ada anak-anak yang mengaji
di masjid itu kecuali bulan Ramadhan saja. Faktanya (setidaknya sampai saat
ini) masjid hanya difungsikan sebagai tempat solat dan jamaah Yasinan Putra
setiap malam Jumat Legi.
Sekarang
ini orang tua cenderung mensupport anak-anaknya mengikuti les atau
bimbel untuk menyuplai kebutuhan akademik di sekolah daripada mengikuti sekolah
langgar. Dengan alasan pendidikan akademik yang bersifat formal itu lebih
penting daripada pelajaran mengaji yang tidak ada nilai raportnya. Anak-anak
juga semakin disibukkan dengan gawai pintar dan berlomba-lomba memilikinya
tentu saja dengan biaya dari orang tua. Sedangkan para orang tua dengan suka
rela mengabulkannya dengan alasan tertentu.
Perubahan
yang terjadi dalam pola hidup masyarakat memang suatu keniscayaan. Bisa saja
jika dulu masjid ramai dengan anak-anak mengaji sedang sekarang tidak tetapi
esok justru berdiri madrasah diniah di masjid itu. Menurut Pitrim A. Sorokin (1889-1968) Proses perubahan sosial
mengikuti alur siklus atau linier. Teori ini sebagai teori perubahan sosial
melihat perubahan sebagai hal yang wajar. Peradaban suatu bangsa akan berjaya
kemudian terpuruk, lalu akan berjaya kembali dan begitu seterusnya. Siklus juga
dapat berarti proses linier dari kelahiran, mapan, menuju keruntuhan dan bisa
sebaliknya.[]
Komentar
Posting Komentar