Menyusui Masa Depan

Seorang perempuan sedang berusaha keras menyambung hidupnya. Bukan persoalan sepikul nasi dalam arti sebenarnya sebab dia lahir dan besar pada keluarga yang mampu menyediakan nasi bahkan sampai sebulan mendatang. Perempuan itu sedang dahaga menulis. Sejak ia menyadari kehidupan terasa menyeramkan, ia kian memaksakan kehendaknya agar menjadi sesuatu setidaknya ia mampu melahirkan satu buku meskipun hanya kumpulan puisi cinta atau cerita pendek.

Orang-orang sekitar yang lebih dulu ‘’gila’’ dengan menulis memang tampak biasa-biasa saja. Namun perempuan itu juga tidak bisa menutup mata, merekalah yang justru berkuasa menanam takdirnya, mereka yang terus bergerak ke depan, memelihara kesadaran dan akal sehat mereka mekipun dalam kesehariannya mereka harus rela merogoh kantong demi menebus sebatang rokok eceran dan kopi hitam yang berasal dari cinta kasih petani. Perempuan itu bukan perokok apalagi penggemar kopi.

Seperti hari ini dan kemaren setelah perdebatan panjang dengan sahabat -sekaligus laki-laki yang dicintainya- perempuan itu berusaha keras melampaui dirinya. Perempuan itu sadar mencintai tidak sesederhana itu, ini menjadi penyakit kedua setelah mimpinya menjadi penulis terasa menyedihkan, sudah sejak lama ketika teman-temannya mulai memamerkan foto bersama pacarnya sampai undangan pernikahan yang mulai berdatangan. Dia seperti masih saja bertanya-tanya apa itu cinta.

Pada akhirnya cinta menjadi salah satu energi dia untuk menulis dan mencari kesadaran apa hakikat hidup yang sebenarnya. Cinta memang dahsyat salah satu keajaiban hubungan dua orang yang sangat indah tetapi juga paling menyakitkan. Perempuan itu sedang menulis tentang kesakitannya mencintai. Banyak kisah-kisah cinta yang berakhir menyedihkan yang justru melegenda, tentu saja siapa yang tidak pernah mendengar Laila Majnun dan Romeo Juliet?. Tetapi gadis itu tidak sedang menyamakan dirinya dengan kisah-kisah tersebut apalagi mengabadikannya. Tragis. Ia menuliskannya hanya ingin menjaga kewarasannya. Itu saja.

Kembali ke meja kerjanya, perempuan itu mendapati anak-anak penulis besar yang berceracau sangat lancar seperti ingin menyampaikan isi kepala induknya. Sebagian ucapannya tumpah kemudian lenyap tanpa tersisa, beruntung masih ada ocehan segar yang berhasil di tangkapnya walau mereka lebih sering mengigau dengan nada ejekan.

‘’hai gadis kusut, maka ada penulis yang mandi teratur ha..ha...’’

‘’kog mandi, makan sepotong puisi saja muntah,’’ mereka sangat berisik sekali.

‘’sstt.. dia sedang patah hati,’’ anakan yang lain lebih nyaring mencibir.

‘’asyuuuu…,’’ perempuan itu naik pitam kalau saja tidak menyadari anakan itu tak lebih dari seonggok buku yang bertengger di rak kotornya tanpa sedikitpun ia menyentuhnya.

Persetan dengan mereka semua perempuan itu akan berusaha mati-matian untuk melampaui induk mereka. Lihatlah betapa keras isi pikirannya setelah mengalami ketakutan masa depan dan kegagalan mencintai. Kehidupan memang sebuah pertaruhan, ia tidak lagi ingin mengalami kekalahan lagi dan lagi. Dia akan bertaruh dengan apapun bahwa ‘’sebuku dua buku akan berhasil dia lahirkan untuk meninju sabahat -yang dicintainya- itu’’.

Malam begadangnya ia tambah untuk melamun karena malam-malammya sudah terlalu banyak merenung akan nasib cinta juga masa depannya. Malam kali ini adalah hari raya untuk sebuah tulisannya yang ingin perempuan itu sususi. Tampaknya perempuan itu tidak sabar menunggu kelahiran anak itu dengan terus menyusui dengan air imajinasi yang ia perah dari tempat ia melamun. Satu dua kata terus menerus mengalir. Susunya sudah dipompa dengan cinta dan rasa ingin cepat kaya.

Anakan-anakan di rak kotornya tampak mengiba kehausan melihat air susu yang tumpah ruah di dalam monitor perempuan itu.

‘’tidak usah buru-buru, energimu perlu dicharger agar bisa bersetubuh dengan hari esok.’’

‘’sudah ku bilang ia cuma sedang patah hati,’’ lagi-lagi mereka terlalu sialan, selalu saja mengejek perempuan itu. Namun kali ini ia mengiyakan ejekan mereka dengan menutup monitornya. Wajahnya terlalu lusuh untuk bercinta dengan petang lagipula tidak perlu buru-buru agar menjadi kaya selama kewarasan masih terjaga dia yakin masa depan tidak akan apa-apa.

Komentar

Postingan Populer