SANTRI
DAN SEPAK BOLA
Oleh: Lutfiana Zulfa[1]
Pesantren
acap kali identik dengan tempat santri menimba ilmu, mengaji dengan cara duduk ta’dzim
di depan kyai atau ustaz setiap waktu. Sedikit yang tahu bahwa selain
mengaji para santri juga biasa bermain seperti halnya anak-anak di luar
pesantren tetapi di pesantren santri harus belajar disiplin, mereka harus tahu
kapan waktunya belajar dan bermain.
Di
lingkungan pesantren ada banyak permainan atau olahraga yang sering dilakukan
para santri seperti sepak bola, tennis meja, badminton, sepak takrow dan lain
sebagainya. Meskipun dengan fasilitas yang bisa dikatakan sederhana bermain dan
olahraga tetap menjadi aktivitas mewah nan menyenangkan di sela-sela kesibukan
jadwal di pesantren.
Namun,
ada satu cabang olahraga yang menjadi primadona di kalangan pesantren khususnya
santri putra apalagi kalau bukan sepak bola. Sepak bola memang termasuk cabang olahraga yang
paling mudah dimainkan dan peralatannyapun
juga tidak perlu mahal-mahal. Untuk bisa memainkan sepak bola biasa, cukup
dengan sepetak tanah menyerupai lapangan sebagai tempat bertanding dan si
kulit bundar tentunya. Ditambah batu bata atau sendal sebagai penanda gawang.
Sepak
bola seperti halnya magnet yang mampu menarik semua kalangan. Belakangan olahraga
ini, tidak hanya digemari oleh kaum adam sebab banyak sekali kaum hawa yang
juga gemar bola. Kita bisa melihat supporter di kursi stadion dipenuhi
laki-laki dan perempuan baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Di rumah-rumah ada
juga ibu rumah tangga yang rela bangun malam demi bisa ikut serta menonton
sepak bola bersama suami dan anaknya.
Di pesantren tempat saya nyantri dulu juga sering
menggelar nonton bareng (nobar) saat PSSI bertanding. Namun sebelum nobar
itu diadakan, santri harus sowan
terlebih dahulu kepada pengasuh pesantren atau kyai terkait
diperbolehkanya atau tidak karena
biar bagaimanapun santri harus tawaduk kepada kyai hal ini sebagai cerminan bahwa di pesantren, pendidikan tata krama selalu dijunjung tinggi.
Setelah
mendapat izin dari kyai barulah para santri berkumpul di lapangan atau di aula
dengan penuh suka cita. Dengan bantuan proyektor dan layar, pertandingan sepak
bola bisa disaksikan bersama-sama. Biasanya para santri juga mempunyai idola
masing-masing terhadap pemain sepak bola. Mereka saling mengunggulkan pemain
mereka dan terkadang menyoraki tim jagoan temannya yang kalah tanding.
Dalam
kesempatan lain, seperti memperingati hari-hari besar tertentu atau ketika
menjelang libur panjang usai ujian akhir, di pesantren juga mengadakan pertandingan
sepak bola. Lomba ini biasa dilakukan antar kelas atau antar kamar jadi bisa
dipastikan bahwa yang menjadi lawan adalah temannya sendiri. Sepak bola
sesungguhnya melatih pemain agar mampu bekerja sama dalam tim
Perjalanan sepak
bola di dunia pesantren semakin mentereng sejak berdirinya Liga Santri
Nusantara (LSN) tepatnya pada 2015 silam. LSN merupakan kompetisi
sepak bola tingkat nasional yang pesertanya diambil dari pesantren di seluruh
Indonesia, melalui babak kualifikasi. Perhelatan ini diselenggarakan oleh
Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdhatul Ulama serta bekerja sama dengan kementerian
Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Dilansir dari alif.id (12/09) Pemain
peserta LSN 2019 adalah santri pondok pesantren yang berumur di bawah 18 tahun
dan pernah mondok (mukim di pesantren) minimal 3 (tiga) bulan sebelum mengikuti
kompetisi LSN dan dibuktikan dengan Kartu Santri atau mendapat pengesahan
sebagai santri dari kepengurusan PC RMI NU setempat.
Nama-nama seperti M Rafli Mursalim (Top
Scorer LSN 2016), Tri Widodo (pemain terbaik 2016), dan Richard Rahmad (pemain
terbaik 2015) adalah jebolan LSN yang pernah mengikuti seleksi Timnas Garuda
U-19. M Rafli Mursalim sendiri adalah peserta yang masuk Timnas Garuda U-19
sebagai striker dan kini menjadi andalan Mitra Kukar FC di Shopee Liga 2. Tentu
saja hal ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan.
Menyoal sepak bola seperti tidak ada
habis-habisnya, banyak tokoh ulama yang juga mempunyai perhatian khusus dengan
pertandingan sepak bola. Siapa yang tidak mengenal tokoh nasional Presiden ke-4
kita, KH. Abdurrahman Wahid yang kerap disapa Gus Dur. Pengetahuan beliau
tentang bola seperti tidak diragukan lagi, berbagai essay beliau yang memuat
komentar tentang pertandingan sepak bola berkali-kali dimuat di surat kabar.
Konon, Gus Dur juga menggunakan taktik bermain sepak bola dalam praktik
pemerintahannya.
Kegemaran Gus Dur dengan bola sudah ada
sejak belia, dulu ketika masih nyantri di tempatnya Gus Dur sering bermain bola
dengan teman-teman sejawatnya di samping menggemari cerita-cerita Kungfu.
Kegemaran itu kelak masih dilakukan Gus Dur ketika menimba ilmu di Mesir.
Menurut cerita, Gus Dur sering tidak masuk di kelas karena mendekam di
perpustakaan kampus atau sedang bermain sepak bola bersama teman-temannya.
Selain Gus Dur ada juga tokoh ulama lainnya
yang bisa disebut bolamania alias gila bola yaitu KH. Abdul Hamid, Quraish
Shihab, Musthafa Bisri alias Gus Mus. Ketika masih kuliah di Mesir Quraish
Shihab juga tergabung dengan klib sepak bola Zamalek. Beliau juga pernah
bermain sepak bola bersama Abdullah Zarkasyi (pendiri pondok pesantren
Darussalam Gontor) dan Gus Mus sewaktu masih menjadi pelajar di Mesir. Dari
salah satu tayangan youtube Najwa Shihab menunjukkan sampai sekarang pun
Quraish Shihab masih menggemari sepak bola hal ini dibuktikan adanya aplikasi
klub kesayangan beliau yaitu Real Madrid.
Dilihat dari ulasan di atas olah raga
sepak bola seperti telah melebur di kalangan mana pun. Bahkan sepak bola kini
bukan lagi pertandingan biasa tetapi menjadi semacam ideologi dan sudah menjadi
tolak ukur dinamika politik nasional.[]

Komentar
Posting Komentar