Iqra’ Kosmik: Refleksi
Abdi Buku Seksi dan Ilahi
Ikhbar F. Zifamina
“Siapapun yang terhibur
dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna darinya”
(Ali bin Abi Thalib)
Serangga “kutu
buku” sepertinya tidak memperoleh maknanya kembali di era milenial. Radiasi
digital menggeser ekosistem ruang baca mereka menjadi ruang searching.
Dunia bukan lagi tentang siapa yang “baca” melainkan siapa yang “dibaca”.
Habitat bagi para kutu buku menjadi sebuah kelangkaan yang niscaya. Buku bukan lagi
bagian dari komoditi kapitalistik. Mungkin ada beberapa, namun isi buku harus
diatur sesuai hasrat pasar yang sering membangkrutkan penerbit beridealisme
tinggi. Kemana perginya semua buku? Dimana para pembaca hakiki di antara
spesies muda?
Penulis mungkin
tidak realistis. Hanya sinis terhadap mereka yang posting sana-sini dengan
gadget termutakhir. Sedangkan penikmat buku masih senatiasa bergelut dengan
dimensi sosial, meskipun hanya numpang ter-upload di komunitas maya lalu
menunggu debu menempel di sampul untuk kemudian dibaca. Penulis-penulis juga
terus berreinkarnasi sebenarnya, walaupun orientasi materi bukan nomer satu,
tapi ada di setiap nomer hidup. Sudahkah sinisismenya? Sudahkah basa-basinya?
Oke, kembali ke pangkuan laptop.
Jika kita bernostalgia
dengan memori era Ultraman Cosmos masih belum menggunakan powerbank, maka
akan tergambar panorama anak kecil yang tidak seperti Shivaa yang melawan
penjahat, namun nafsu menggebu-gebu akan kepemilikan suatu mainan
robot-robotan. Entah itu saat musimnya mobil Tamiya, topeng Power
Ranger, ataupun gasing Beyblade, semua anak laki-laki akan
mengejarnya sebelum pubertas melanda mereka untuk memperebutkan perawan
sekelas. Mainan apapun menjadi “solusi” primer dalam kehidupan mereka.
Beranjak dewasa setelah
mengalami hasrat hormonal yang tidak terrealisasi dengan baik karena ditikung
teman, maka perempuan atau mainan bukan perkara yang urgen lagi. Mungkin
penulis salah tembak masalah, bukan cewek atau robot-robotan yang tersingkir,
melainkan evolusi kedua hal ini menjadi rasa keinginan memiliki yang baru. Apa
rasa kepemilikian yang baru itu? Menjelma apa kedua hal yang sering “diobyekkan”
kaum adam tersebut?
Berbasis pada
pengalaman penulis, keduanya menjadi entitas yang kita sebut “Buku”. Dunia
perbukuan mungkin adalah dimensi kebosanan yang nyata. Bagaimana mungkin tidak boring
jika kau tengok tulisan dan kata-kata ilmiah yang jarang kita temui di omongan
harian bahasa ibu. Pernah dalam salah satu scene di kartun Upin &
Upin, Jarjit memamerkan buku tebal ke Ehsan dan Fizi. Mereka berdua melihat
halaman per halaman, “Tulisan je?!” teriak Fizi. Ehsan pun sama,
bilangnya, “Ah, tak sedap lah ini buku”. Mengapa keduanya sudah
mengkritik buku yang tak bedosa tersebut? Padahal keduanya cuman memeriksa
sekilas? Tentu saja, Buku itu membosankan!
Sikap Fizi dan
Ehsan tentu wajar saja bagi anak-anak yang lebih menyukai buku bergambar atau
komik. Tapi di dunia nyata? Manusia dewasa tentu mayoritas bisa “membaca” tapi
mungkin sedikit yang “membaca buku”. Penulis sepertinya tidak perlu memberikan
fakta statistik atau survey tentang minat baca buku atau semacamnya. Kita
observasi saja ekosistem sosial, berapa banyak manusia yang memusatkan
perhatian di hadapan novel atau komik mungkin? Atau banyak mana orang-orang yang
khusyuk beribadah depan “kotak pandora mini” daripada kitab suci yang terlantun
atau kitab non-suci yang terpegang di tangan mereka?
Su’udzon ini
bisa diperpanjang lagi sebenarnya, namun penulis sebenarnya ia menekankan bahwa
mungkin setiap orang sebenarnya tidak membenci buku, melainkan memiliki “buku”
versi mereka sendiri. Semisal ketika meninjau dari golongan “penyembah bacaan’’,
pasti ada banyak aliran di dalamnya. Baik itu pasukan komik Manga, ras novel melancholic,
kaum intelektual akademik yang cuman memperbanyak daftar pustaka skripsi
semester tua, bahkan sekte majalah-surat kabar yang radikal dengan memilih
rilisan fisik daripada koran digital. Itu di kalangan pembaca saja. Lantas
bagaimana dengan khalayak awam yang penulis maksud?
Pastinya
kebhinekaan manusia selain soal aqidah, negara, klub sepakbola, ataupun kata
kotor, juga merangsek ke sektor aksentuasi “buku” versi masing-masing. Konsep
“buku” yang penulis maksud sebenarnya bukan lagi soal bundelan kertas bercover
“seksi” tapi isi bikin “patah hati”. Sebagaimana para milisi perbukuan fanatik
yang mempunyai adiksi akan genre buku tertentu. Masyarakat non-kutu buku
pastinya sangat punya ketergantungan akan “buku” mereka sendiri.
Jika kita
mendekonstruksi hakikat buku menjadi “segala sesuatu yang memungkinkan
terkumpul banyak hal untuk terbaca”, maka asumsi penulis tentu sangat tepat
apabila manusai mengikatkan diri mereka pada “buku” versi tersebut. Kita akan
melihat milyaran buku berwajah artis oplas K-Pop, ideologi tanah air, firqoh
cinta-benci, finansial yang bikin sial melulu, atau mungkin sebatang
lintingan tembakau dengan secangkir kopi hitam lokal dari gerombolan aktivis
kiri yang terancam DO. It’s all about a book. Mau bagaimana lagi?
Dunia hanyalah sebuah perpustakaan akbar yang berjejal ribuan kitab
dan buku, dimana manusia masih mencari buku yang ingin ia baca dan pinjam untuk
dibawa ke kediaman. Manusia itu sendiri adalah bagian halaman yang tercover
atau satu judul,bahkan mungkin menjadi nama rak berisi jutaan buku. Banyak
orang di perpustakaan semesta ini, dan jangan menuntut kesenyapan yang bernyawa
di dalamnya,karena bumi sangat riuh dengan lambe turah emak-emak atau
musik natural dua sejoli di balik semak-semak. Semuanya adalah Buku. Semuanya
adalah Kitab.
Dikarenakan Semesta menjadi kitab raksasa yang menantang insan
untuk membacanya, maka penulis sering teringat dengan wahyu kenabian pertama
dari Tuan Nabi Muhammad SAW. Saat semedi Nabi SAW. di kesempitan dan temaram
malam di Gua Hira, Jibril As. menghampiri beliau dan berucap, “Iqra’! Yaa
Muhammad (Bacalah! Wahai Muhammad)”. Apa jawab Nabi SAW.? Beliau menjawab, “Ma
ana bi qari’ (Aku tidak bisa membaca)”, Jibril terus berkata Iqra’ sampai wahyu pertama rampung tersampaikan.
Setelah sebelumnya kita berasumsi bahwa setiap orang adalah
pembaca, lalu apakah Nabi SAW. yang mengaku ke Ruh al-Quds sebagai Ummi
atawa yang tidak bisa baca-tulis, perlu belajar nahwu-shorf di pesantren
atau “Ini Budi” di sekolah dasar? Karena Jibril As. dalam riwayat-riwayat tidak
memberi privat baca-tulis pada Rasulullah Saw. layaknya ustadz bimbel yang
butuh tambahan dana makan, maka Jibril sebenarnya membawa pesan suci bagi
sekian manusia lewat Rasul yang rahmatan lil ‘alamiin. Kosmos yang ada
sebagai ayat, dan kita manusia yang mengambdi pada Tuhan, diberi titah pertama
berupa Iqra’.
Maka kita sebagai hamba Tuhan tentu beribadah dengan membaca!. Lantas
apa yang kita baca?. Kembali lagi ke pemahaman awal, bahwa realitas kita yang
dinamis dan plural ini menghendaki kita menemukan “buku” yang cocok bagi kita.
Sehingga mandat Tuhan tersebut dapat tercapai dan hidup di planet ini lebih
bermakna dengan membaca apapun,kapanpun,dimanapun, bahkan siapapun. Jadi, kita
sebagai manusia yang masih berhati nurani dan berakal normal, tetaplah Iqra’!
Ya..’Abda Tuhan!.

Komentar
Posting Komentar