Serpihan Cerita Lutfi
Saya Lutfiana Zulfa salah satu anak yang lahir pada masa reformasi Mei ’98 bertempat di lembah Prigi tepatnya di kecamatan Watulimo kabupaten Trenggalek. Saya dibesarkan di tengah-tengahn, keluarga yang sederhana dan sangat harmonis.
Lutfi kecil adalah bocah yang aktif dan terbilang cukup pandai, hal ini tidak terlepas dari kesabaran dan keuletan Emak dalam mengajari saya. Kiranya tepat jika ada pepatah yang mengatakan ibu adalah perpustakaan pertama bagi anak-anaknya, sebab saya mendapat banyak sekali pelajaran dari beliau.
Saya mulai belajar membaca sejak sebelum masuk sekolah. Emaklah sosok yang paling berjasa karena selalu mendapingi saya belajar membaca mulai dari huruf abjad sampai huruf bersambung yang ditulis tangan oleh beliau sendiri. Selain belajar tulis-menulis Emak juga memberi contoh berperilaku yang luhur dan selalu ajeg salat dhuha.
Ketika saya berumur enam tahun Emak mendaftarkanku sekolah di desa yang sama dengan desa tempat tinggalku. Aku dibonceng Emak dengan sepedha onthel bapak, saya kalau teringat ini pasti terharu. Karena bapak bekerja di kebun jadilah Emak yang selalu mengantar saya ke sekolah, lain waktu saya berangkat bersama sepupu saya.
Di taman kanak-kanak saya termasuk anak yang pandai (katanya he..he..). Emak pernah mendapat pujian dari guru TK saya atas didikanya. Selain Emak, pakdhe, adek sepupu, bibi, dan Bapak tentunya mereka semua adalah guru-guru yang hebat bagi saya.
Musibah orang, siapa sangka?, menginjak usia sekolah dasar mulailah babak pendewasan bagi saya. Emak yang menjadi segalanya tiba-tiba saja sering sakit-sakitan. Sejak saat itu aku diasuh oleh nenek dan jarang sekali ke rumah sebab nenek khawatir akan terjadi apa-apa. Saya pun juga jarang menemui bapak, bapak fokus dengan pengobatan Emak dan bekerja sampai- sampai bapak tidak tahu saya sudah kelas berapa.
Di sekolah dasar saya termasuk yang gemar membaca. Saya suka memilah-milah buku lawas di lemari kelas yang tak terawat tak jarang bau khas tikus menguar begitu saja ketika pintu almari terbuka. Masa-masa itu juga waktu saya belajar arti kesederhanaan miwah mawi pasrah, sepi pamrih tebih ajrih, uang saku saya waktu itu pernah seribu rupiah saya belikan permen jadi satu hari satu permen. Sampai-sampai kawan saya prihatin dan berbohong kalau kalau menemukan uang di kontak pensil saya padahal itu uang dia sendiri.
Puncaknya ketika kelas enam sekolah dasar, kabar buruk seperti menerpa kami sekeluarga tepat di malam ahad Emak dinyatakan berpulang. Saya seperti hilang keseimbangan rasanya seperti tercerabutnya harapan-harapan, kesembuhan Emak, senyum istimewa selepas memasakkan saya sayur lodeh, rasanya seperti tidak ada lagi mentari yang menghangatkan, rasanya dunia gelap dan suram.
Menginjak Tsanawiyah saya selalu berangkat sekolah memakai sepedha onthel yang dibelikan bapak untuk mengantar saya ke sekolah dulu. Jarak rumah ke sekolah lumayan jauh kira-kira dua kilo meter. Di Tsanawiyah ini saya kira hampir tidak ada yang menarik untuk diceritakan selain kekalahan ketika madrasah menyelenggarakan lomba sinopsis novel dalam rangka memperingati bulan bahasa.
Setelah lulus dari Tsanawiyah sayapun bertekad nyantri, mencari tempat belajar yang jauh dari orang tua, ingin mendalami ilmu agama juga. Al Anwar, sebuah pesantren yang terletak di desa Kamulan kabupaten Trenggalek adalah tempat di mana saya pertama kali mondok. Di tempat baru ini saya menemukan hal-hal luar biasa sebab semua santri diwajibkan untuk berbahasa Asing dan santri yang melanggar akan dikenakan hukuman, saya pun tidak luput dari hukuman itu.
Baru setelah tiga tahun di pondok saya pun hijrah ke kabupaten tetangga yaitu di Tulungagung. Dengan berkuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) berarti saya merasa memikul tanggung jawab keilmuwan sedangkan sampai saat ini saya belum bisa membaca tulisan Arab. Hal ini membuat saya merasa dilema, pilihan yang seharusnya saya tekuni dengan senang hati kini menjadi menyeramkan. Saya merasa sangat bersalah kepada jurusan BSA.
Cita-cita saya tidak muluk-muluk dan mungkin juga tidak mewah menurut sebagian besar orang yang lulusan sarjana. Saya ingin suatu saat bisa menjadi petani sayur hidroponik dan mampu memasarkannya, selain itu saya juga ingin menciptakan lapangan pekerjaan yang dapat membantu masyarakat sekitar.
Lanjutlam lut
BalasHapusAhsyiapp
Hapus