BAPAK DAN CERITA CENGKIH
Bapak adalah petani cengkih yang lahannya
bisa dikatakan tidak sempit sebab dimanapun alas bapak pasti punya, di alas
Sor Awu, Karanggoso, Tumpak Walang yang kesemuanya terletak di
Kecamatan Watulimo, Trenggalek. Warga kecamatan Watulimo memang mayoritas berpencaharian sebagai petani dan kebanyakan lahan mereka
ditanami pohon cengkih.
Tumbuhan dengan nama latin Syzygium Aromaticum ini, pohonnya
dapat tumbuh mencapai 10 meter, daunnya rimbun dan rantingnya bercabang-cabang.
Cengkih mempunyai aroma segar yang khas dan rasanya pedas. Tanaman ini memiliki
banyak manfaat diantaranya sebagai rempah-rempah, kosmetik, isi rokok keretek,
jamu dan lain-lain.
Tanaman cengkih mempunyai daya jual yang
lumayan rata-rata perkilonya dihargai Rp 23.000 kalau dijual basah sedangkan
yang dijemur kering Rp 70.000 bahkan lebih. Sayangnya biji cengkeh ini hanya
muncul setahun sekali sampai dua tahun sekali. Kebutuhan pupuk yang diberikan
serta intensitas cahaya yang cukup akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman ini.
Hampir kebutuhan sehari-hari keluarga kami, ditopang oleh penghasilan bapak pada panen cengkih. Sehingga
selain dijual langsung, bapak juga menjemurnya agar bisa dijual suatu
hari ketika kebutuhan mendesak. Selain cengkih bapak juga menanam pohon pisang,
jengkol, pohon sukun, kopi susu, durian yang jika panen akan sangat membantu
memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Oh iya saya belun tuntas bercerita tentang
cengkih dan bagaimana
masyarakat Watulimo ketika panen cengkih. Butuh yang
namanya tangga berkaki satu dan tampar atau yang biasa disebut karalon.
Ada dua ukuran karalon yang dipasangkan, karalon yang berukurang
pendek diikatkan antara badan tangga agak bawah dengan pohon cengkeh sendiri,
kemudian yang ukuran panjang digunakan untuk mengaitkan badan tangga bagian
atas dengan dua pohon samping kanan-kiri atau semacamnya yang terbilang kuat
hal ini bertujuan agar tangga dapat berdiri tegak tanpa bergeser.
Bapak masih termasuk orang yang wani
rekasa, wani ngaya atau berani berusaha berani capek sehingga tidak
segan-segan untuk memanen sendiri. Tetapi setelah beberapa tahun belakangan ini,
tepatnya ketika tubuh bapak tidak sekuat dulu, bapak selalu menggunakan jasa
pekerja untuk memanen cengkih.
Pemanjat biasanya membawa karung yang sudah
diberi kawat besar dibagian atasnya agar mudah ketika memasukkan dompolan
cengkih setelah
dipetik. Rata-rata pemanjat mendapat upah Rp. 100.000 perhari dan bisa
sampai lebih jika hasil yang diperoleh memenuhi ukuran karung lele padat dan
cara memetiknya juga bagus. Dengan bapak mempunyai pekerja saya kira bapak sudah bisa disebut juragan alias bos (menurut saya he..he..).
Setelah sampai di rumah cengkih kemudian
dipisahkan antara tangkai dengan biji cengkih itu sendiri satu persatu. Kami
biasa menyebutnya pithil cengkih. Sebagian tetangga sampai ada yang
menawarkan kepada orang lain supaya mithil cengkih di rumahnya, fenomena
ini masih banyak di desa. Pasalnya, dengan adanya tetangga yang membantu mithil
cengkih ada semacam keakraban dan keharmonisan yang terjaga karena biasanya
orang-orang akan bercerita banyak hal sembari mithil cengkih. Tetangga
yang membantu tersebut juga diberi upah sesuai berat cengkih yang berhasil
meraka pisahkan.
Bapak (lagi-lagi) tipe orang yang wani
rekasa, wani ngaya dalam mithil cengkih seringkali tidak meminta
tolong tetangga, cukup ditangani oleh anggota keluarga sendiri dengan alasan
klise: tidak perlu memberi upah. Banyak hal yang saya pelajari dari bapak
termasuk ketekunannya dalam bekerja sehingga ketika saya tidak becus melakukan
sesuatu maka bapaklah orang yang pertama kali memberi sambutan dengan
serentetan omelan yang khas emak-emak jika anaknya telat pulang dan mandi sore
hari.
Rumah, 9 Juni
2019

Komentar
Posting Komentar